Sejarah Kelenteng Hok Keng Tong, Kelenteng Tertua di Cirebon
Oleh Faqih Rohman Syafei, pada Feb 17, 2018 | 13:33 WIB
Sejarah Kelenteng Hok Keng Tong, Kelenteng Tertua di Cirebon
Bagian depan Kelenteng Hok Keng Tong. (Faqih Rohman/Ayocirebon)

WERU, AYOCIREBON.COM -- Sekilas Klenteng Hok Keng Tong yang berlokasi di Desa Weru Kidul, Weru, Kabupaten Cirebon nampak modern dan baru. Namun siapa sangka klenteng tersebut sudah berusia 629 tahun, dan merupakan klenteng tertua di Cirebon.

Ketua Yayasan Klenteng, Kusnadi Halim (54) mengatakan berdasarkan cacatan prasasti dan menurut cerita orang tua dulu Klenteng Hok Keng Tong dibangun pada tahun 1389 oleh sekelompok orang Tionghoa yang mendarat di wilayah Pantai Utara Pulau Jawa yang termasuk ke dalam gelombang eksodus ke wilayah Asia Tenggara. Lalu karena tempat dan tanahnya dianggap cocok serta subur kemudian dibangunlah pemukiman serta rumah ibadah.

"Menurut prasasti sekitar tahun 1389 masehi, kurang lebih hampir 20 tahun selisih dengan berdirinya Kota Cirebon pada 1369. Yang mendirikan berdasarkan catatan dan menurut orang tua dulu serta satu catatan yang tertinggal tahun 1958 ketika zamannya orang-orang Tiongkok yang eksodus ke Asia Tenggara," ujarnya kepada Ayocirebon beberapa waktu lalu.

Setelah berlalu ratusan tahun dari mulai pendirian, Klenteng Hok Keng Tong dipaksa vakum selama lima tahun pada tahun 1825 - 1830 akibat munculnya perang Diponegoro ditambah dengan adanya kebijakan dari Pemerintah Hindia - Belanda yang melarang kegiatan atau aktivitas orang-orang Tionghoa di kelenteng.

Alasan pelarangan tersebut, lanjut Kusnadi lantaran orang-orang Tionghoa menggunakan klekelent sebagai tempat untuk membantu logistik atau ransum kepada para pasukan tentara Pangeran Diponegoro yang sedang berperang melawan Pemerintahan Hindia - Belanda.

"Dulu banyak umat kelenteng berikan ransum ke pasukan Diponegoro, lalu dibuatlah aturan itu oleh Pemerintah Belanda. Setelah diteliti ternyata pelarangan tersebur benar adanya," bebernya. 

Setelah perang usai, kondisi Kelenteng Hok Keng Tong berubah dratis. Karena sudah cukup lama ditinggalkan serta terbengkalai, kelenteng pun kemudian dipindahkan ke depan dekat dengan jalan. Semua seluk-beluk bangunan kelenteng mulai dari suhunan, tiang bangunan dan lain sebaginya dibongkar dan disusun kembali menyerupai aslinya. 

"Pindah dari Desa Pamarakan yang dekat laut lebih ke depan dekat dengan akses jalan. Alasan pemindahan dekat dengan jalan untuk memudahkan akses umat jika ingin bersembahyang di klenteng," jelas Kusnadi.

Kusnadi menambahkan pelarangan aktivitas kelenteng kembali terjadi pada tahun 1972 oleh Pemerintah Indonesia, kala itu pemerintah mewajibkan kelenteng harus berada di bawah naungan Departemen Agama serta tidak boleh memakai nama Klenteng Hok Keng Tong.

Lalu dibuatlah Vihara Dharmasuka dan dimulailah ada kegiatan kebaktian Budha di kelenteng ini.

Setelah berjalan beberapa puluh tahun, klenteng atau vihara ini kemudian direnovasi karena kondisinya sudah banyak kerusakan dimana-mana. 

Selama empat tahun renovasi banyak peninggalan asli kelenteng diganti dengan yang baru karena tidak memungkinkan lagi untuk digunakan kembali, tak hanya itu luasnya harus terpangkas sekitar 50 meter untuk digunakan sebagai jalan demi kepentingan warga Weru Kidul.

"Tahun 2012 direnovasi dan selesai tahun 2016 bertepatan dengan ulang tahun dewa Fuk De Ming Huang. Peninggalan klenteng yang masih dipakai hingga sekarang adalah rupang atau patung dewanya dan sisa peninggalan lainnya disimpan," kata Kusnadi.

Ia menjelaskan kelenteng ini di Indonesia adalah salah satu klenteng terbaik dengan dewa yang tertinggi dan terbersih di alam para dewa, oleh karena itu hanya disini nama dewanya Fuk De Ming Huang, ditempat lain beda namanya. Dia juga meyakini bahwa patung dewa yang sudah ada sejak dahulu ini, disembah oleh para pendiri klenteng karena yang menyelamatkan mereka hingga sampai di tanah Jawa. 

"Disini nama dewanya Fuk De Ming Huang, menurut guru spirityal kami ini adalah ketua atau rajanya yang tertinggi, tertua dan tersuci di alam sananya. Sedangkan di klenteng lainnya tidak boleh menyebut nama dewa dengan nama Fuk De Ming Huang," pungkas Kusnadi.
 

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600