Menengok Sandal Kebarepan yang Pernah Berjaya
Oleh Faqih Rohman Syafei, pada Mar 26, 2018 | 15:25 WIB
Menengok Sandal Kebarepan yang Pernah Berjaya
Dareni beserta pengrajin lain saat mengerjakan produksi sandal spons di Desa Kebarepan, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon. (ayocirebon/Faqih Rohman)

PLUMBON, AYOCIREBON.COM – Selain dikenal sebagai sentra kerajinan rotan, Cirebon juga memiliki puluhan hingga ratusan pengrajin sandal berbahan baku spons. Mereka berkumpul di Desa Kebarepan, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon.

Salah seorang pengrajin, Dareni (34), mengatakan jika industri sandal Kebarepan sebelumnya pernah berjaya di sekitar tahun 2006. Saat itu, semua warga Desa Kebarepan memproduksi sandal. Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu pengrajin sandal mulai berguguran. Saat ini, Desa Kebarepan hanya menyisakan dua pabrik sandal yang masih bertahan.

"Sekarang cuma ada dua yang tersisa, yaitu Zebra Mandiri yang pakai mesin dan satu lagi milik Maesaroh yang masih manual pengerjaannya," ujar Dareni kepada ayocirebon, Senin (26/3/2016).

Pabrik Zebra Mandiri, tempat Dareni bekerja, telah eksis sejak tahun 1990. Saat itu, pabriknya mempekerjakan sekitar 85 karyawan. Sandal buatan pabrik tersebut bahkan hingga diekspor ke luar negeri.

Namun, kondisi berbeda saat ini. Pabrik Zebra Mandiri hanya menyisakan 10 orang pegawai termasuk Dareni. Pemesanan sandal juga banyak didominasi oleh wilayah domestik seperti Bekasi, Jakarta, Makassar, Pekalongan, dan Batam. Dalam satu bulan, saat ini pemesanan sandal mencapai 10-15 kodi. “Tak ada minimum order. Pesan sedikit juga bisa, banyak juga bisa,” katanya.

Urusan kualitas, Dareni mengklaim jika sandalnya bisa bertahan hingga lima bulan hingg lebih tergantung pemakaian. Setiap sandal di Pabrik Zebra Mandiri berkisar antara Rp12.000 – Rp30.000 tergantung ukuran dan model yang diinginkan.

Dalam prosesnya, industri sandal Desa Kebarepan acapkali menghadapi kendala. Misalnya saja dari sektor permodalan dan minimnya bahan baku spons yang harus didatangkan dari Tangerang, Provinsi Banten. Hal itu membuat para pengrajin harus memakan biaya lebih besar. Selain itu, gempuran barang-barang impor juga membikin indutri sandal Desa Kebarepan kian lesu.

Para pengrajin sandal spons di Desa Kebarepan berharap agar pemerintah daerah bisa memberikan solusi agar industri tersebut tetap bertahan. "Semoga pemerintah bisa membantu modal dan mengembangkan industri ini," kata Dareni berharap.

Tahapan produksi sandal Kebarepan.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan pengrajin saat membuat sandal spons ini. Pertama adalah pemilihan bahan baku berupa spons dengan berbagai varian dan warna. Bahan ini dipilih lantaran teksturnya yang lentur dan tidak licin jika terkena air. "Bahan disesuaikan dengan ukuran dan model yang diinginkan oleh konsumen, termasuk juga warna serta jenisnya," kata Dareni.

Setelah itu, proses selanjutnya adalah pencetakan sandal dan pemberian nama sesuai pesanan. Untuk mencetak sandal, para pengrajin menggunakan mesin plong agar cetakan lebih rapi. Lantas, sandal yang telah dicetak akan ditempelkan bentuk nama sesuai pesanan.

"Setelah ditempel, diperlukan waktu untuk pengeringan, ini dilakukan agar sandal lebih kuat dan jika diteruskan ke proses selanjutnya ketika masih basah lem akan cepat mengelupas lapisan lemnya," terang Dareni. 

Sandal yang sudah diberi nama, lalu di-press menggunakan mesin agar lapisan lemnya lebih kuat, menempel, dan merata. Sesudah itu dibersihkan dengan bensin pada bagian-bagian tertentu agar lebih bersih dan rapih dari sisa-sisa lem.

Selanjutnya, sandal dicetak dengan menggunakan mesin supaya menyerupai karakter tokoh kartun atau lainnya. Selesai dicetak, sandal pun dipasang tali berbahan sintetis sebagai penahan atau pengikat.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600