Intip, Kuliner Khas Gunung Jati Cirebon Yang Enak dan Murah
Oleh Faqih Rohman Syafei, pada Jun 03, 2018 | 14:41 WIB
Intip, Kuliner Khas Gunung Jati Cirebon Yang Enak dan Murah
Intip kerak nasi. (Faqih R Syafei/ayocirebon)

GUNUNG JATI, AYOCIREBON.COM--Bila kamumelewati Jalan Cirebon-Jakarta via Indramayu, ada baiknya cicipi makanan khas Cirebon yang terbuat dari kerak nasi yaitu Intip. Makanan yang sekilas mirip seperti rengginang ini, banyak dijual di sekitaran Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. 

Dari segi adonan, Intip lebih padat dibandingkan rengginang namun ketika digigit terasa renyah tidak keras. Dan dari ukurannya lebih besar, serta warnanya pun juga lebih coklat keemasan.

Salah seorang produses Intip asal Desa Mertasinga, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Elviyah (43) mengatakan, Intip adalah makanan khas daerah Gunung Jati, Cirebon yang sangat populer di kalangan masyarakat Cirebon dan sekitarnya.

Bahan utama pembuatan intip dari kerak nasi atau lapisan nasi kering, sedikit hangus terbakar yang terdapat didasar penanak nasi tradisional atau dandang. Sedangkan untuk penamaannya berasal dari kata intip yang menurut warga sekitar Gunung Jati adalah penanak nasi tradisional. 

"Ini kuliner khas Cirebon khususnya Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon yang terbuat dari menanak nasi yang mengerak dibawah intip," katanya kepada Ayocirebon, Sabtu (2/6/2018).

Menurutnya, makanan ini sudah ada sejak tahun 1980-an. Ketika itu warga mengkonsumsi kerak nasi sebagai makanan selingan dengan ditaburi parutan kelapa di atasnya. Selain dimakan, dimanfaatkan juga sebagai pakan ternak ayam atau bebek.

Warga yang sudah bosan makan kerak nasi dicampur kelapa kemudian berinisiatif menggorengnya agar bisa bertahan lebih lama, tak hanya itu ditambahkan pula bumbu manis gurih atau asin agar lebih enak rasanya.

"Lama kelamaan agar bisa tahan lama kemudian di goreng dan diberikan bumbu-bumbu yang terdiri gula, santan, bawang putih garam dan sebagainya agar lebih sedap dan enak. Hingga kini, terdapat dua rasa intip yakni manis gurih dan asin," terang Elviah. 

Elviah menjelaskan, usaha Intip yang dirintisnya bersama sang suami sudah berjalan sekitar 10 tahun. Pada awalnya dia hanya membeli kerak nasi dari warga sekitar lalu menjualnya kembali pada pembuat Intip. Namun dirasa bisa menghasilkan provit yang lebih besar, dia pun mulai beralih menjadi pembuat intip. 

Dijelaskan, proses pembuatan intip terbilang mudah tidak memerlukan peralatan yang banyak, cukup dengan peralatan dapur biasa yang sering dipakai sehari-hari. Tetapi untuk paking kemasan harus diperlukan tambahan alat. 

Tahap pertama yaitu membeli kerak nasi dari warga sekitar dan menjemurnya sekitar setengah hari, lalu masuk proses penggorengan sekitar tiga sampai lima menit hingga keemasan, kemudian ditiriskan serta berikan bumbu, terakhir di paking.

Elviah menjualnya dengan harga Rp10.000 perkemasan dan Rp35.000 perkilonya. Dia mengaku produk miliknya sudah tersebar se-Ciayumajakuning, Jakarta, bahkan sering dibawa ke luar negeri oleh TKI dari desa sekitar ke negara Arab dan Taiwan.

Sambungnya ketika menjelang lebaran, muludan dan acara nadran atau pesta laut penjualan produknya bisa mencapai lima kali lipat dari biasanya. "Bisa sampai lima kali lipat jelang lebaran," papar Elviah. 

Sementara itu, penikmat intip, Halimah (36) mengutarakan rasa intip sedap dan enak, cocok sebagai cemilan ketika nonton Tv, mengobrol dan juga untuk menjamu tamu. Selain itu harganya pun ramah dikantong dan juga sangat pas bila dijadikan buah tangan kepada sanak saudara ataupun teman ketika berkunjung ke Cirebon. 

"Ini enak mas, murah lagi. Saya suka beki sekitar satu kilo buat di rumah. Kadang saya juga beli buat dikasih ke saudara atau teman," pungkasnya.

Editor : Andri Ridwan Fauzi
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600