Tradisi Lempar Uang di Situs Watu Tameng
Oleh Faqih Rohman Syafei, pada Oct 05, 2018 | 07:17 WIB
Tradisi Lempar Uang di Situs Watu Tameng
Situs Watu Tameng Ditutupi Kain Putih. (ayocirebon.com/Gaqih Rohman Syafei)

GUNUNG JATI, AYOCIREBON.COM -- Terdapat tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat yang hendak berziarah ke Makan Sunan Gunung Jati, Cirebon. Ketika melintas di situs Watu Tameng, mereka sering melemparkan uang.

Menurut Filolog Cirebon, Raffan Safari Hasyim, tradisi melempar uang ke Watu Tameng sudah berlangsung sejak lama. Kebiasaan tersebut dimaksudkan sebagai bentuk sedekah agar terhindar dari musibah.

Sambungnya, Watu Tameng hingga kini masih dikeramatkan oleh warga sekitar dan para peziarah. Mereka meyakini batu tersebut bisa menolak bala atau hal-hal negatif. 

AYO BACA : BPS Kota Cirebon Catat Deflasi September Sebesar 0,27%

"Istilahnya sedekah untuk menolak atau mencegah dari musibah. Jadi uang tersebut diibaratkan seperti berdoa agar diberikan keselamatan," katanya kepada ayocirebon.com, Kamis (4/10/2018).

Dia menjelaskan keberadaan Watu Tameng di sekitar Makam Sunan Gunung Jati sudah ada sejak ratusan tahun lalu, bahkan tidak pernah berpindah tempat. Dahulu batu tersebut digunakan sebagai penanda batas wilayah.

"Dulu ada dua pesantren besar di situ, yaitu pesantren Giri Amparan Jati yang didirikan oleh Syekh Nurjati pada tahun 1420 dan pesantren Sembung yang dibangun Sunan Gunung Jati tahun 1440. Batu tersebut adalah batasnya," katanya.

AYO BACA : Mitos Jalan Karanggetas Kota Cirebon Yang Sangat Tersohor

Raffan menerangkan, pesantren Giri Amparan Jati sepeninggal Syekh Nurjati dilanjutkan oleh Pangeran Cakrabuana, kemudian ke Syekh Datuk Kahfi. Namun, pada masa Sunan Gunung Jati pesantren kemudian dipindahkan dan dibangun kembali dengan nama pesantren Sembung. 

"Putri Oeng Tien wafat dikubur di pesantren Giri Amparan Jati, Pangeran Cakrabuana, Pangeran Kejaksan, Pangeran Panjunan dikubur disana juga. Kemudian jadi kuburan raja-raja," terangnya. 

Pada waktu itu kawasan tersebut di jaga oleh Ki Gede Watu Tameng. Menurut Raffan nama tersebut merupakan nama pangkat atau jabatan kepada seseorang yang bertugas mengamankan wilayah tersebut.

"Sebelumnya, ada Ki Buyut Sembung atau Syekh Musyahadatilah yang melayani aktifitas dan segala kebutuhan rumah tangga Sunan Gunung Jati," pungkasnya.

AYO BACA : Api Lahap 355,52 Hektare Lahan Gunung Ciremai

Editor : Rizma Riyandi
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600