Keraton Kanoman Cirebon Gelar Tradisi Tawurji dan Ngapem
Oleh Faqih Rohman Syafei, pada Nov 07, 2018 | 16:28 WIB
Keraton Kanoman Cirebon Gelar Tradisi Tawurji dan Ngapem
Tradisi Tawurji dan Ngapem di Keraton Kanoman Cirebon. (Faqih Rohman Syafei/Ayocirebon.com)

LEMAHWUNGKUK, AYICIREBON.COM -- Keraton Kanoman Cirebon menggelar tradisi Tawurji dan Ngapem, Rabu (7/11/2018). Tradisi tersebut rutin dilakukan pada setiap Rabu Wekasan atau Rabu terakhir di Bulan Safar.

Juru Bicara Kesultanan Kanoman Cirebon, Ratu Raja Arimbi Nurtina mengatakan tradisi ini sudah berlangsung sejak era wali songo. Tradisi ini pun sangat erat dengan pengaruh ajaran agama Islam dan misi Islamisasi ketika itu.

AYO BACA : Tradisi Lempar Uang di Situs Watu Tameng

"Tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari acara ritual di Keraton Kanoman, dan berlangsung sejak ratusan tahun lalu," katanya kepada Ayocirebon.com, Rabu (7/11/2018).

Dijelaskannya, tawurji merupakan bentuk shodaqoh berupa uang koin yang dibagikan secara massal kepada warga sekitarnya. Ngapem pun demikian, maknanya serupa dengan tawurji. Hanya saja, memakai media yang berbeda yakni dengan membagikan makanan atau kue apem yang disandingkan dengan gula merah.

AYO BACA : Begini Tradisi Patungan Beli Hewan Kurban di Desa Bodelor

"Tawurji asal kata dari tawur artinua melempar uang koin dan aji tuan haji atau orang mampu. Kalau apem terbuat dari tepung beras. Maknya keduanya sama yaitu shodaqoh," jelasnya.

Dia menerangkan tradisi tersebut dilakukan dengan niatan sebagai upaya untuk menolak segala jenis mara bahaya atau musibah. Karena menurut cerita tradisi tawurji bermula dari upaya perlindungan murid-murid Syekh Lemah Abang yang dianggap sesat disertai nasin mereka yang terlunta-lunta, kemudian ditolong oleh Sunan Gunung Jati.

"Dengan memberikan uang koin sebagai bekal untuk bertahan hidup. Dan kejadiannya terjadi pada hari rabu terakhir Bulan Safar dan ketika itu juga berbarengan dengan adanya tradisi ritual di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT dan tawasul kepada para wali dan leluhur raja-raja Kanoman," terangnya.

Arimbi menambahkan tradisi ini diawali dengan berkumpulnya para pangeran dan abdi dalem di Pendopo Djinem sembari menunggu Sultan Kanoman XII Sultan Raka Muhammad Emirudin dari Kaputren. Sultan membawa satu kotak berisi koin-koin yang sudah didoakan kemudian dibagikan kepada warga dan abdk dalem yang sudah menunggu diluar.

"Didoakam dulu di Bangsal Paseban untuk meminta pertolongan agar dihindarkan dari musibah dan sebagainya. Lalu dibagikan secara sukarela," pungkasnya.

AYO BACA : Mitos Jalan Karanggetas Kota Cirebon Yang Sangat Tersohor

Editor : Dadi Haryadi
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600